Pengembangan Orientasi
Rintik air kian berjatuhan ke bumi, dari yang semula hanya rintik-rintik kecil, menjadi segerombolan air yang menghantum permukaan bumi tanpa ampun. Seakan hujan pun berusaha menutupi kesalahan yang ia lihat di bumi, berusaha untuk membersihkan kanvas yang sudah ditutupi oretan tinta-tinta yang sudah abstrak adanya, berusaha untuk menghilangkan sejarah kejadian yang sudah bumi menjadi seperti sekarang.
Bila hujan tidak sedang menutupi keramaian bumi, bukan kicauan indah burung-burung di ranting pohon yang bisa dengan pasti terdengar, bukan juga bunyi nyaring jangkrik yang biasa mengisi diamnya malam. Suara yang sekarang terus terdengar di bumi ialah suara riak teriak perang yang menggema dari tiap permukaan bumi. Suara prajurit yang berteriak entah untuk menyemangati kawan prajuritnya atau bisa jadi merupakan teriakan untuk memantapkan dirinya atas hal yang sebenarnya ia takuti. Suara parau tangisan keluarga karena kehilangan bagian darinya. Suara amarah sosok-sosok penting yang memaki bawahannya demi melindungi diri dibalik kewaspadaan akan keadaan perang yang sudah berlangsung beberapa tahun itu.
Dibalik kerusuhan yang terjadi, keadaan seorang prajurit wanita yang mematung di samping tiang penerang jalan yang rapuh itu terlihat sangatlah kontras. Dengan tatapan hampanya menatapi langit malam yang sedang menjatuhkan rintik menggebu gebunya pada bumi bagai sedang terburu-buru berusaha menutupi corak kabut asap dan kilauan merah yang sebelumnya menghiasi langit. Entah keadaan langit malam itu yang ia sedang tatapi, atau keadaan miris bumi ini yang sedang ia ratapi.
Vera tak bisa menghilangkan kata ‘andai’ dalam semua pikiran di benaknya. Kata yang biasa ia sebut sebagai perkataan seorang pecundang itu kini ia pakai dalam kalimatnya sendiri. Memang miris sekali, entah miris karena ia menggunakan kata yang ia yakini hanya digunakan oleh seorang pecundang, atau miris akan keyakinan dan kesalahan yang telah ia lakukan hingga membuat bumi menjadi seperti ini, atau mungkin lebih tepat miris atas alasan itu.
Rasa penyesalan memeluk Vera erat, tidak membiarkannya untuk bernapas bebas. Vera merasa bahwa apa yang ia lakukan pada 3 tahun lalu merupakan suatu keputusan tergesa yang telah menciptakan keadaan bumi yang sekarang ini. Namun penyesalan sebesar apapun tak bisa mengembalikan keadaan.
‘Ternyata pepatah si tua Beloren itu benar, tapi apa boleh buat, aku tak bisa memutar waktu sebagaimana Philip dalam buku fantasi “Magia del Tempo” bisa tiba-tiba mendapatkan kemampuan berpindah dimensi waktu dengan kesedihan tak kentara yang ia alami’
‘Andai saja dulu..’
Rentetan penyesalan menyelimuti hari Vera, bagai rintik hujan malam itu yang menyelimuti seluruh tubuh Vera tanpa kecuali. Vera menyesali masa itu. Masa yang dulu disebut ‘kejayaan’ itu.
Komentar
Posting Komentar