Vaksinasi
Penulis : Nurfira Widia Arini
Kelas : 12 Mipa 3
BAB I
Hujan terus menderai di sore hari ini, terus berjatuhan ke bumi menciptakan irama bunyi yang menjadi musik pengiring bagi seorang gadis di kamar yang hening itu, hanya bunyi derai hujan yang menemaninya. Terlihat Arin sedang berbaring terlentang di atas kasurnya, menatap kosong ke atap loteng kamarnya. Tangannya menggenggam gawai, memainkannya, memutarkannya ke kanan, ke kiri, dan memutarbalikkan kesana kemari dengan jari jemarinya. Raut wajahnya menampakkan kehampaan dan kesedihan yang sedang ia ratapi.
Rasa bosan dan kehampaan menyerang gadis berkerudung hitam itu. Menatap atap kamarnya merenungi apa saja yang terjadi dalam waktu 2 tahun yang ia alami itu. Sungguh waktu yang sangat melelahkan, entah hingga kapan masa ini akan berlangsung.
“Haahh..” Gadis itu menghembuskan nafasnya kasar, seakan dengan menghembuskan nafasnya bisa menghilangkan banyak hal di benak nya.
Entah sudah satu, satu setengah atau bahkan dua tahun lamanya pandemi covid-19 ini terjadi. Sudah sulit ku hitung dengan pasti waktu yang aku lalui ini, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, hingga menjadi hitungan bulan demi bulan atau bahkan tahun demi tahun, terus mengalir bagaikan arus air yang deras hingga tak terasa sudah terlewat banyak waktu kurasakan, sampai sekalinya aku tersadar sudah banyak sekali waktu yang terlewatkan olehku.
Semua dimulai dari diungkapnya bahwa terdapat sebuah virus yang menjangkit penduduk di kota Wuhan, China yang di tayangkan di media massa, pun media sosial yang pada akhirnya dinamai virus corona. Dunia menjadi geger dengan kemunculan virus yang memiliki kemiripan genetika dengan virus SARS ini. Dengan kasus pertama yaitu seorang pria berusia 70 tahun yang jatuh sakit pada tanggal 1 Desember. Disusul dengan pasien lain yang menunjukan gejala serupa, para ahli pun mencurigai penyakit itu berhubungan dengan pasar hewan hidup, Pasar Seafood Hunan dan bukan merupakan pneumonia biasa.
Aku sebenarnya tidak terlalu terganggu dengan kemungkinan bahwa virus itu bisa menginfeksi manusia karena pribumi China yang memakan makanan yang terlalu ekstrim seperti itu. Walau memang harus kuakui aku heran dan tidak mengerti kenapa mereka mau maunya makan makanan hidup seperti itu, yang mana di dalam pasar itu bukan hanya terdapat hewan yang biasa tetapi ada juga hewan hewan yang tak lazim dimakan. Hal yang sebenarnya menggangguku adalah bagaimana pemerintah China yang berupaya keras menutupi adanya penyakit yang mudah menular itu dengan banyak cara.
Apakah citra pemerintah itu lebih berharga daripada nyawa penduduknya yang pada saat itu pun kian berjatuhan? Bilamana pertanyaan itu bisa jadi kujawab, tentulah kujawab tidak bisa. Pemerintah China yang terus saja mengelak bahwa tak ada bukti pasti kalau penyakit itu menular dari manusia ke manusia, sedangkan sudah banyak pasien di rumah sakit yang bertambah, bahkan dokter pun menyatakan kesaksian bahwa penyakit itu menular. Drama yang sungguh tragis terjadi dengan terjatuhnya nyawa sebagai imbasnya. Pemerintah China yang menutup-nutupi keluarnya berita mengenai virus yang dapat menyebar dari manusia ke manusia ini, juga menutupi informasi yang mereka ketahui mengenai virus corona. Terus menerus mengelak, hingga terkuak fakta yang membuat mereka tak lagi bisa mengelak.
Bertepatan tanggal 31 Desember 2019 penduduk China, tepatnya Wuhan, menjalani perayaan imleknya seperti biasa dimana jalanan ramai, hiruk pikuk penduduk sudah bagai koloni semut yang sedang memenuhi wilayah tertentu, terlihat sangat padat. Dikala virus corona sudah muncul, memberikan peluang bagi virus corona yang konon merupakan penyakit yang berasal dari hewan kelelawar itu, hinggap dari satu manusia ke manusia lain nya. Dari satu menjadi 10, dari sepuluh hingga 100, tak tahu juga berapa banyak yang terinfeksi virus corona dalam keramaian malam di perayaan hari imlek itu. Momen membahagiakan, saat orang-orang menikmati malam itu dengan gembira, berganti menjadi momen yang membawa kisah tragis bagi dunia.
Tak hanya pribumi Wuhan, China yang turut merayakan hari imlek di Wuhan pada saat malam hari itu. Kenyataan bahwa ada turis asing atau bahkan kerabat yang tak bertempat tinggal di sana yang turut serta dalam perayaan hari imlek malam hari itu, menjadi peluang bagi virus corona untuk melakukan aksinya menginfeksi lebih banyak manusia. Kemudian tersebarlah virus corona ke seluruh dunia, dari yang baru berbalik dari Wuhan pada kerabatnya, lalu menyebar lagi dari kerabatnya pada orang lain, dan selanjutnya yang berkelanjutan hingga dimana virus corona sudah merajalela di dunia.
Sedih yang kurasakan, pemerintah Indonesia, bumi tercintaku ini juga melakukan hal yang mirip dengan pemerintah China itu, mengelak mengenai adanya virus corona. Pada masa awal corona masuk ke Indonesia, pemerintah meyakinkan kalau corona belum ada di indonesia, seakan ia tahu pasti keadaan penduduk indonesia dari ujung sabang hingga ujung merauke. Dimana tentu saja ia tak tahu, mana bisa dia mengaku tahu semuanya? dimana yang bisa tahu segalanya tanpa terlewat sedikitpun hanyalah Allah semata?
Sebuah ironi yang menjadi salah satu faktor lengahnya Indonesia dalam menangani virus corona ini. Bukannya menunjukkan bahwa pemerintah sudah menyiapkan segala bentuk kebutuhan dalam rangka persiapan dalam menangani virus tersebut bila memang berhasil masuk ke Indonesia, pemerintah malah tampak terus saja mengelak bahwa belum atau tidak ada kasus covid di Indonesia pada saat itu.
Drama terus berkecamuk, masalah kian bermunculan, kesenjangan ekonomi kian timbul di hadapan. Korban jiwa dan yang terjangkit semakin bertambah dari waktu ke waktu. Pemerintah, influencer, juga banyak orang terus menggalakkan untuk mengikuti protokol kesehatan, seperti mengingatkan masyarakat untuk rajin mencuci tangan, menggunakan masker, dan lainnya. Salah satu tokoh yang kulihat berperan dalam menggalakkan hal tersebut adalah Dr. Tirta. Sempat aku melihat video dimana dia diundang kepada podcast Deddy Corbuzier, disana ia memperbincangkan banyak hal dengan Deddy. Yaitu terus dan tak lupa lupa dalam menggalakkan masker, terus turun tangan ke warga warga membantu, baik membagikan masker dan lainnya, dia pun menyampaikan kekhawatirannya akan kesenjangan ekonomi yang kian terjadi beriringan dengan terjadinya pandemi covid-19 ini. Aku kagum dengan keberanian dia mengutarakan pendapatnya, dan usahanya dalam membantu masyarakat.
Sekarang pun pemerintah sedang melakukan vaksinasi secara besar besaran untuk masyarakat umum, yang mulanya hanya diperuntukkan pada masyarakat tertentu, seperti tenaga kesehatan, guru dan lainnya, tapi seiring cukupnya jumlah vaksin dan kebutuhan vaksinasi besar besaran dalam upaya menurunkan jumlah penderita covid-19. Adanya vaksinasi ini pun ditujukan untuk menjangkau seluruh tingkatan masyarakat karena diadakan tanpa memungut biaya atau gratis.
BAB II
Akupun sebagai seorang pelajar merupakan salah satu target yang diupayakan untuk mengikuti vaksinasi yang sedang dilakukan secara massal oleh pemerintah itu. Sekolah-sekolah mendampingi para siswanya untuk mendaftarkan diri mengikuti vaksinasi dalam salah satu upaya dalam melakukan pembelajaran tatap muka nanti. Dikarenakan bila ingin mengadakan pembelajaran tatap muka, sebagian besar siswa harus divaksin terlebih dahulu supaya terjamin keamanan saat pembelajaran tatap muka di sekolah nanti.
Pada tanggal 29 Agustus 2021, aku mendapatkan informasi mengenai vaksinasi yang diadakan untuk siswa pelajar SMA di Cimahi. Bimbang sekali hati ini, kutahu kalau vaksin ditujukan untuk melindungi diri dari virus corona, tapi apakah memang sebegitu perlunya kah? Bukan kah asalkan ku rajin memakan vitamin, tetap dan terus melakukan peraturan kesehatan semuanya akan baik baik saja? Lagipula aku juga belum percaya pasti kalau vaksin itu tak akan memberikan efek samping yang mengerikan nantinya, lalu juga ketakutan ku saat memikirkan tentang jarum suntik.
“Tidak tidak, bukan karena aku takut suntik, tetapi karena meragukan vaksin yang digunakan nya, iyaa aku ragu divaksin karena itu, huft,” monolog yang kuucapkan pada diri sendiri, entah untuk menyanggah suntik sebagai salah satu faktor keraguan ku untuk mengikuti vaksinasi.
Tapi sungguh aku khawatir karena banyak rumor yang beredar mengenai efek samping yang muncul setelah vaksinasi nanti beragam, entah nanti aku beruntung dan mendapat efek samping ringan atau kurang beruntung dan mendapat efek samping sedang atau berat nantinya. Bahkan katanya ada yang meninggal dikarenakan efek samping vaksinasi itu, kian meningkatkan kadar keengganan ku untuk mengikuti vaksinasi.
Hari ini adalah tanggal 2 September 2021 sehingga aku hanya memiliki waktu hingga besok pagi untuk memantapkan keputusanku. Akan kucoba untuk mencari cari informasi lebih dalam supaya keputusan yang kudapat nanti akan lebih pasti dan yakin.
“Baiklah, kita coba cari saja video tentang vaksinasi di youtube. Siapa tau bisa membuat keraguanku untuk mengikuti vaksinasi hilang,” aku putuskan untuk meraih gawaiku yang tadi kumain-mainkan, menyalakan nya dan mulai mencari dengan keyword ‘vaksinasi’ di youtube. Ku Ubah posisi badanku dari terlentang menjadi tertidur dengan perut sebagai topanganku, akhirnya muncul hasil pencaharian dengan video yang tampilan nya adalah seorang gadis seusiaku sebagai tampilan video teratas dari pencaharian.
Ku klik saja video tersebut karena adanya rasa penasaran yang timbul saat melihat thumbnail video itu. Tampak seorang gadis cantik seusiaku dengan rambut coklat panjangnya yang terkucir dua. Ia mengenakan dress lucu berwarna coklat yang selaras dengan warna rambutnya. Kulihat ia mulai menjelaskan betapa pentingnya vaksinasi, juga hal hal lain mengenai vaksinasi, sungguh membosankan.
“Jadi teman-teman kita semua harus mengikuti vaksinasi yaa! supaya semuanya cepat terselesaikan dan semua jadi memiliki resiko yang kecil untuk terinfeksi virus corona,” ajaknya dengan girang, gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Bora ini terlihat sangat ceria membujuk penonton videonya untuk turut mengikuti vaksinasi.
Tapi sulit sekali mulut ini menahan diri untuk membalas ucapannya, “Kalau ingin memiliki resiko yang kecil, orang itu saja yang mengikuti vaksinasi, aku merasa cukup aman ko dengan rajin meminum vitamin dan mengikuti aturan kesehatan saja juga,” kalau orang yang khawatir akan kesehatannya dan ingin divaksin, kenapa tidak dia saja yang divaksin, kenapa orang lain juga harus diwajibkan ikut vaksin juga olehnya.
Hal yang tak terduga terjadi, baru saja aku menggerakkan jariku untuk menutup video youtube gadis bernama Bora itu, tiba-tiba saja kudengar suara yang menjawab sanggahanku.
“Tentu saja tidak bisa seperti itu Arin, kita semua harus kompak dalam menghadapi-” belum selesai ia menjawab sanggahanku, kupotong dengan ungkapan kagetku.
“Hah? Dia berbicara dengan aku? Ah mungkin ada orang lain yang dia tuju yang bernama Arin juga, lagipula kan ini video youtube, bukan video streaming, bagaimana bisa dia tahu apa yang aku katakan,” baiklah sekarang aku akan benar benar menutup video ini, sayang rasanya tampilan nya menarik tetapi ternyata videonya aneh sekali, padahal kan penonton nya bukan hanya orang bernama Arin itu, kenapa dia seakan sedang berbicara hanya dengan orang bernama Arin ini.
BAB III
Sekali lagi aku menggerakkan jariku untuk keluar dari video itu, ‘aneh sekali video tadi, mari cari video yang lain sa-’
(Hap)
“HAH?” Kutatap heran lengan yang tiba tiba menggenggam tanganku, apakah ini hanya ilusi? Aku kan hanya sendiri di kamar ini, apa mungkin... hantu?
Tapi pemikiran itu segera aku hiraukan karena setelah aku telisik, hal yang lebih mengherankan adalah tangan yang memegangku seakan keluar dari layar gawaiku? Atau mungkin hantu seperti Sadako pada film The Ring itu benar-benar ada? jangan jangan hantu ini adalah saudaranya Sadako? Sungguh sebuah konspirasi!
“Le-lepaskan tanganku! Entah kamu hantu, arwah atau bahkan saudaranya Sadako yang sedang diam di gawaiku, intinya lepaskan tanganku!” Aku berusaha menarik tanganku dari genggamannya, berusaha mengguncangkan ke kanan dan kekiri supaya genggaman nya melonggar, tapi hasilnya nihil. Sungguh aku kaget sekali, lagian tidak masuk akal sekali untuk sebuah tangan tiba-tiba keluar dari layar gawai, tapi kalau memang dia saudaranya Sadako, apakah tangan hantu bisa hangat yah?
Tiba-tiba, tanpa persiapan apa-apa tanganku terasa tertarik dengan keras oleh tangan yang keluar dari gawaiku ini. Kulihat badanku yang semakin mendekati layar gawai, hingga saat kepalaku hanya berjarak satu sentimeter dengan gawaiku aku refleks menutup mataku. Lagipula itu merupakan insting saat kepalaku bagai akan berbenturan gawai yang kecil itu, kalau tangan kan masih masuk akal untuk masuk ke layar yang kecil itu, tapi kalau kepala? Atau mungkin badan? Mana bisa.
Tapi benturan di kepala yang aku nantikan tidak datang juga, yang kurasakan hanyalah benturan aku yang seakan baru saja loncat dan terjatuh di lantai dingin ini. Tunggu, lantai dingin? seingatku lantai di kamarku ditutupi oleh karpet berbulu, biarpun tak ada karpet itu, kurasa lantai di kamarku tak akan terasa sedingin ini?
“Fyuh, cukup menguras tenaga ternyata ya berusaha menarik orang dari dimensi lain itu. Oh Iya! Hai lagi Arin, kenalkan aku Bora,” sahutnya dengan tersenyum sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman sembari menolongku bangun dari posisiku yang sedang terduduk di lantai. Kulihat wajahnya dipenuhi keringat, bagaikan habis melakukan olahraga berat.
Dengan pikiran yang masih linglung, kugapai lengan yang ia ulurkan itu. ‘rasanya seperti tangan yang muncul dari gawaiku tadi’ tunggu, gawai? Oh bagaimana bisa kulupa, tadi kan aku baru saja ditarik oleh tangan itu ke dalam gawaiku, jadi itu adalah tangan dia? Tapi hal yang lebih penting adalah,
“Bagaimana bisa badanku muat masuk ke dalam gawai” Aku keheranan bagaimana bisa badanku yang besar ini muat untuk masuk ke gawai? oke jangan lupakan hal yang lebih tidak masuk akal bahwa tangan Bora baru saja tiba tiba muncul dari layar gawaiku dan menarikku kesini.
Kuamati sekelilingku, terlihat dinding yang kulihat sebagai latar video Bora yang ku tonton tadi. Dengan ornamen-ornamen lain yang belum pernah aku lihat sebelumnya, tapi satu hal yang tiba-tiba muncul di benakku saat melihat benda-benda itu, ‘magis’ karena ornamen-ornamen itu memberikan kesan yang sama dengan saat aku melihat benda benda di latar film Harry Potter itu, atau jangan jangan gadis ini juga penyihir seperti itu? Tapi bukankah hal seperti itu hanyalah fiktif?
“Oh kalau itu, karena aku sudah mengubah layar gawaimu sebagai media teleportasi, maka otomatis saat tubuhmu yang sebenarnya tidak akan muat bila melewati gawai akan diatur oleh pintu teleportasi untuk bisa melewatinya, cukup rumit dan aneh tapi.. ya seperti itu,” Jelasnya padaku, sungguh jelas penjabaran yang ia berikan sampai-sampai tidak dapat kumengerti satu hal pun sebagai penjelasan kenapa badanku bisa masuk ke gawaiku yang kecil itu, tapi ayo abaikan, masih ada hal lain yang harus kutanyakan.
“Oke akan aku anggap kamu itu saudaranya Sadako atau Harry Potter atau siapapun itu, tapi pertanyaanku itu, kenapa kamu menarik aku kesini? Kembalikan aku ke kamarku!” kutatap ia dengan sengit, meminta penjelasan mengenai alasan ia menarikku ke sini, tapi sungguh agak mengesalkan. Orang yang kutatap ini hanya menatapku balik dengan tersenyum girang, seakan ada hal menarik yang sedang terjadi, dimana tak ada satu hal pun yang menarik pada saat ini.
“Oh oh! iya, benar juga belum aku jelaskan! Jadi tadi aku mendengarkan sanggahanmu terhadap video yang kubuat tadi, itu membuat aku ingin membuatmu sadar atas apa yang aku katakan, tetapi karena kamu tak terlihat akan mau menjelaskan penjelasanku, maka aku berpikir kenapa tidak memperlihatkannya padamu saja secara langsung? Sungguh itu membangkitkan ambisiku untuk menjelajahi dimensi lain yang terdengar sangat menarik, sungguh menarik bukan?” Oh lihat matanya terlihat sangat berbinar binar saat mengucapkan kalimat terakhir itu, seakan ada bintang yang berkerlap-kerlip di sana. Tapi apa tadi dia bilang? berpindah dimensi?
“Berpindah dimensi? Sangat mau!” mulut ini sekali lagi melakukan hal semaunya, kenapa aku bisa begitu tergiurkan saat mendengar kata berpindah dimensi. Tapi memang sedari dulu aku gemar sekali membaca novel mengenai berpindah dimensi yang terlihat sangat mengasyikan, mungkin dengan menjelajahi dimensi itu bisa mengalihkan perhatianku dari pemikiran tentang vaksinasi? Ku gelengkan kepalaku, tidak tidak aku harus kembali ke kamarku sekarang.
“Tidak tidak aku salah bicara, yang kumaksud adalah aku sangat ingin kamu untuk mengembalikanku pada dimensi asalku tadi, ke kamarku! ayo bawa aku kembali ke ka- UWAHH!!” Seketika aku tak bisa melanjutkan ucapanku, Bora kembali menarik lenganku masuk ke pintu dimensi yang entah muncul sejak kapan. Tapi sekarang karena aku melihatnya dengan mata terbuka, aku bisa melihat transisi yang terjadi saat aku berpindah dimensi ke tempat antah berantah ini.
BAB IV
Tempat ini terlihat seperti Indonesia masaku, tetapi dengan keadaan sekitar yang masih belum secanggih masaku. Tapi ada hal yang mengalihkan perhatianku adalah selembar koran yang kulihat di tepian meja sebuah toko di depanku yang berisikan berita mengenai adanya sebuah pandemi yang sedang terjadi di dunia saat ini yaitu pandemi MERS, hanya saja korban jiwanya memanglah jauh lebih sedikit dari pandemi covid-19 yang sedang terjadi di masaku.
Tertuliskan tanggal 10 Mei 2013 pada lembaran koran tersebut, yang berarti sudah berlangsung 8 bulan lamanya semenjak kasus pertama MERS yang dilaporkan pada bulan September 2012 di Arab Saudi. Pada hari ini dikatakan oleh koran bahwa terdapat 16 orang yang dinyatakan positif terjangkit virus MERS di Arab Saudi. Sehingga jumlah kasus MERS yang terjadi di Arab Saudi sudah tercatat 480 kasus, dengan 139 kematian. Dinyatakan bahwa MERS memiliki genetika yang mirip dengan SARS akan tetapi lebih mematikan dan tidak semudah itu untuk menyebar. Sehingga kebanyakan kasus adalah dikarenakan seseorang yang sedang di daerah timur tengah dan melakukan kontak dengan unta, dimana unta merupakan tempat persinggahan virus MERS sebelum virus tersebut bisa berpindah ke manusia.
“Jadi kita sudah tiba di negerimu di 10 Mei 2013, seperti yang kamu lihat di koran itu, pada masa ini juga sedang terjadi sebuah pandemi yaitu pandemi MERS yang memiliki genetika mirip dengan SARS juga Covid-19, tetapi tak semudah itu menginfeksi dari satu manusia ke manusia lain. Aku akan menunjukkanmu keadaan manusia di masa pandemi ini terjadi, hingga saat pandemi ini selesai.” Bora pun mulai menarik lengan ku lagi dan berjalan ke arah pintu portal dimensi yang muncul entah dari mana.
“Baiklah.” Jawabku singkat, karena aku sudah tidak sabar untuk melihat keadaan manusia pada saat ini.
Bora pun menarikku masuk ke dalam portal itu, dan kita sampai ke dimensi lain, terlihat gurun pasir dan suhu panas yang terik, kami sedang berada di Arab saudi. lalu kami berpindah ke rumah sakit yang ada disana, terlihat kondisi pasien yang sungguh memilukan hati.
“Tenang saja aku sudah melapisi kita berdua sehingga orang lain tak bisa merasakan kehadiran kira, juga mencegah kita terinfeksi virus MERS ini.” Jelas Bora, mungkin ia menjelaskannya karena melihat wajahku yang menunjukkan raut khawatir. Penjelasan Bora sungguh membuatku lega dan akupun dapat lebih bebas dalam mengamati sekitar.
Tapi tak cukup disitu, Bora membawaku melintasi waktu kedepan lagi dan lagi, dengan lokasi tak hanya ke Saudi Arabia tetapi juga Korea Selatan dikarenakan adanya juga kasus MERS disana. Kita terus menerus meloncati waktu dan berpindah tempat, kulihat keadaan yang semakin memuncak, semakin mengkhawatirkan, tetapi syukur juga semakin lama yang semakin menurun. Semakin lama kuamati, semakin ku mengerti betapa pentingnya vaksin dalam menghadapi sebuah pandemi. Dimana Pada pandemi MERS yang aku saksikan ini belum sempat mendapati vaksin yang bisa digunakan oleh masyarakat maupun obat pasti bagi pasien. Juga berita mengenai Prof. Christian Drosten yang turut meneliti virus ini pada masa itu, ia merupakan seorang virologi yang juga meneliti virus SARS sebelum ia juga meneliti mengenai virus MERS ini. Pada saat itu vaksin tidak berkembang pada tahap berikutnya atau tahap selesai, karena situasi yang sudah menurun dan sudah terkendali sehingga tidak ada yang tertarik untuk mendanai pembuatan vaksin disaat kondisi sudah terkendali dan vaksin tak dirasa dibutuhkan. Adapun tak adanya vaksin MERS juga dikarenakan jangkauan penyakit MERS yang banyak terjadi di timur tengah, Asia, Afrika, dan tak begitu menyebar.
BAB V
Setelah melihat kondisi pandemi MERS itu aku terus terpikirkan, akan jauh lebih aman bagi masyarakat, juga mengurangi banyak pasien yang terjangkit bila pada masa itu sudah ada vaksin. Atau setidaknya mengurangi persentase seseorang untuk terinfeksi virus ini. Apalagi dengan persentase 35 persen kematian dari total kasus terjangkit virus MERS ini, yang merupakan angka yang sangat tinggi. Kalau saja ada vaksin pada saat itu maka bisa jadi orang memiliki imun yang lebih kuat sehingga ia kecil kemungkinan nya terinfeksi virus MERS. Maka boleh jadi angka kematian tersebut bisa menurun.
Hilang sudah keraguan yang sempat menjalar di hatiku, kulirik Bora, gadis berambut coklat panjang yang dikucir 2 yang senantiasa tersenyum tanpa henti ini padaku. Walau harus kuakui terkadang ia sangat aneh, bahkan memutuskan keputusan nya sendiri dengan tiba-tiba seperti saat ia tiba-tiba menarikku pada portal dimensi itu, tapi dia sangatlah baik padaku, membuatku tersadar atas hal yang tak kusadari sebelumnya. Terbukti dengan tak kusadari lagi, bahwa kita sudah sampai lagi ke ruangan Bora tadi.
“Terimakasih Bora,” ucapku lembut sembari menunjukkan senyum hangatku padanya.
Aku sungguh berterima kasih padanya karena dia, aku bisa menyadari semua ini. aku sadar kalau memang Tuhan menciptakan manusia begitu sempurnanya hingga tubuh kita dapat menciptakan penawar dari segala macam penyakit, termasuk penyakit SARS, MERS bahkan aku percaya Covid-19 pun berlaku seperti itu. Akan tetapi saat virus atau penyakit hingga membangkitkan antibodi tertentu dalam tubuh dikarenakan kadar berbahayanya, terkadang antibodi tersebut lepas kendali, bukan hanya menghancurkan virus atau penyakit itu tetapi juga organ dalam manusia itu sendiri juga terlukai. Bahkan itu yang merupakan saat kritis dimana bisa jadi menyebabkan kematian seseorang yang terjangkit ketiga virus tersebut adalah karena tingkah berlebihan antibodi tubuh tersebut yang malahan menghancurkan organ manusia tersebut.
Tetapi dengan seiringnya waktu, manusia yang imunnya cukup kuat mencegah virus untuk masuk dan menginfeksi maka akan menciptakan sistem kebalnya terhadap virus tersebut tanpa harus menderita terinfeksi virus dan antibodi yang bertindak berlebihan. Dimana kondisi tersebut mungkin pula yang menyebabkan virus SARS dan MERS bisa seakan hilang dari dunia begitu saja. Dan ku pikir hal itu pun akan terjadi dengan Covid-19 tetapi sekarang ku sadar krusialnya vaksin untuk mengurangi korban jiwa hingga poin dimana umat manusia cukup kuat sehingga virus Covid-19 bisa seakan hilang dari muka bumi.
“Dengan senang hati, Arin. Kamu pasti sudah tahu apa yang harus kau lakukan sekarang.” Bora mengulurkan tangannya kembali padaku, seperti pada awal pertemuan kita. Tetapi bedanya sekarang aku meraih tangannya dengan senang hati. Ia mengembalikanku pada kamarku. Kulihat sekeliling yang memang menunjukkan kamarku, ku cubit pipiku, sakit, membuktikan bahwa itu semua bukan mimpi. Bahkan masih ada bekas pasir di ujung bajuku, menjadi bukti penjelajahanku dengan Bora.
Kulihat gawaiku yang menampilkan video bora yang terakhir aku tonton sebelum aku berpindah dimensi. Menampilkan Bora yang tersenyum hangat padaku. Lalu ku lirik penanda waktu sekarang yang menunjukkan jam 8 pagi pada tanggal 3 September 2021. Aku pun bersiap-siap untuk pergi ke Technopark untuk mengikuti vaksinasi. Ku sampai kesana dan mulai mengantri pada pukul 11 hingga selesai sudah vaksin pertamaku pada jam 2 hari itu. Ku tinggal menunggu 3 minggu kemudian untukku melakukan vaksin keduaku.
Hatiku diliputi kelegaan dan kesenangan yang tak terbayang sebelumnya olehku. Kuharap orang lain juga menyadari kepentingan vaksin sebagaimana aku tersadar dengan penjelajahanku dengan Bora. Teman berjelajah dimensi, teman aneh yang akan selalu kukenang. Memberikan sebuah memori berkesan yang tak akan pernah bisa kulupakan.
“Sekali lagi, terimakasih Bora.”
Koda
Sering dikatakan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Hal tersebut dibuktikan oleh antibodi manusia yang dapat mengalahkan virus corona, mampu mendapatkan rumus/susunan antibodi yang dapat mengalahkan virus corona, dimana manusia itu sendiri berusaha untuk menemukan ramuan yang bisa mengalahkan virus corona tetapi belum mampu melakukan itu, dengan adanya peristiwa MERS dan SARS dimana pandemi tersebut tidak tersolusikan oleh vaksin yang manusia buat tetapi seakan hilang dengan sendirinya, dikarenakan pada saat tersebut tubuh manusia sudah dapat hidup beradaptasi dengan virus tersebut. Akan tetapi mampu-nya antibodi dalam melawan covid 19 pun menimbulkan risiko dimana antibodi melawan sel tanpa kendali bahkan kepada sel dalam tubuh manusia itu sendiri, dimana merupakan mayoritas penyebab gugurnya seseorang. Maka ada baiknya kita mengikuti vaksinasi untuk menaikkan imun tubuh dan juga mencegah situasi dimana antibodi bisa merusak tubuh kita tanpa kendali.
ini juga seru banget alurnya!
BalasHapusMantapp teruskan karyanya 👍
BalasHapus( Moch Ariq Syah- XII MIPA 2)
Cerita yang menarik dengan pembawaan bahasanya yang mudah dipahami
BalasHapusPenulisan sangat rapih sehingga pembaca tidak pusing membacanya, bahasa yang digunakan mudah untuk dimengerti, hebat 👍
BalasHapusSangat menarik. Alur cerita mudah dipahami
BalasHapusWaw mantap banget!!
BalasHapusKerennnn!
BalasHapusCeritanya menarik, penggunaan bahasanya bagus, alur ceritanya cukup rapi
BalasHapus